Festival Kota Masa Depan

Festival Kota Masa Depan

Informasi Semarang - Dewasa ini studi mengenai kota cukup bergairah. Tak hanya persoalan tren semata, laporan bertajuk ‘Unleashing the Potential of Urban Growth’ yang dirilis oleh UNFPA (United Nations Population Fund) tahun 2007 menunjukkan perkembangan penduduk kota yang sangat signifikan. Pertama kalinya dalam sejarah tahun 2008 lebih dari separuh penduduk dunia, sebanyak 3.3 milyar orang akan tinggal di kota. Dua tahun kemudian, kondisi faktualnya 47 % penduduk dunia atau 3,42 milyar orang tinggal di kota.
Prediksinya 2030 jumlah itu akan meningkat jadi 5 milyar dan jumlah itu akan terus bertambah. Di antara benua penyumbang populasi manusia yang cukup signifikan adalah Afrika dan Asia, Indonesia termasuk di dalamnya. Data dari Bappenas dalam Rancangan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN) menyatakan ada peningkatan penduduk yang tajam di kota-kota Indonesia. Tahun 1950 misalnya, hanya ada 4 kota otonom, di tahun 1990 jumlahnya meningkat menjadi 73 kota otonom.

Fakta-fakta ini menunjukkan urbanisasi adalah hal yang bersifat niscaya. Dengan sisi negative dan positifnya, ia tak bisa ditolak. Tak hanya soal urbanisasi, berdasar data yang pernah dirilis harian Kompas, Indonesia tahun 2020-2030 diprediksi akan mengalami bonus demografi, yakni dimana penduduk usia produktif makin banyak sementara usia muda makin kecil dan usia lanjut tidak banyak. Bonus demografi dan arus urbanisasi bisa dikatakan satu paket yang akan diterima Indonesia dalam beberapa tahun mendatang tentunya dengan laju yang cukup cepat.

Sementara itu berdasar temuan dari berbagai media dan penelitian mengungkap pertumbuhan kota yang sangat cepat tidak selalu ‘memanusiakan’ manusia yang tinggal di dalamnya. Penggusuran kampung, situs bersejarah, pendirian mall dan hotel yang ngawur, kemacetan, rob dan hal-hal negative lainnya tak luput dari perjalanan kota. Namun tidak kota namanya jika tak menjanjikan kesempatan-kesempatan lainnya. Keburukan dan kebaikan kota jalin berkelindan mempengaruhi manusia yang tinggal di dalamnya. Sering dalam candaan dikatakan ‘Sebelum semua menjadi Jakarta.’ seolah Jakarta adalah kota yang terselamatkan karena tumpang tindihnya pembangunan. Candaan itu tentu saja menyimpan kekhawatiran laju pembangunan kota di daerah-daerah akan mengulang kesalahan yang sama; persoalan transportasi public yang tak selesai-selesai, daya dukung lingkungan yang minim, pembangunan yang semata berorientasi pasar dan lain-lain. Sebelum segalanya ‘terlambat’ seperti Jakarta, tak heran jika kemudian muncul suara-suara dari bawah yang menginginkan kota-kota dibangun lebih manusiawi.

Berbagai kasus yang terjadi di beberapa wilayah, misalnya Yogyakarta yang resah dengan pembangunan hotel, Semarang yang bergelimang dengan rob dan galian C, Pontianak dengan sungai-sungainya yang tercemar, dan masih banyak yang lainnya, menunjukkan ada yang tidak beres dalam pertumbuhan kota-kota di Indonesia, yang kalau tidak disikapi akan membuat kota-kota ini sakit parah.

Tentu saja selalu ada upaya dari pemerintah untuk mengatasi keadaan, di antaranya melalui KSPPN yang ingin merancang kota di masa depan menjadi kota yang layak huni, hijau dan bisa mengatasi perubahan iklim dan bencana, punya daya saing berbasis teknologi komunikasi dan informasi, dan tentu saja sesuai dengan karakter budaya masing-masing. Tak hanya KSPPN, dokumen Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) juga akan menjadi kitab suci yang akan mengawal laju perkembangan kota di Indonesia. Dengan menitikberatkan pembangunan infrastruktur dan aspek ekonomi, MP3EI hendak memeratakan pembangunan. Visi MP3EI ‘Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur’ adalah mantra yang harus diikuti oleh rakyat Indonesia.

Pada kenyataannya utopia-utopia itu tak selalu berbanding lurus dengan praktiknya di masyarakat. Protes warga Batang terhadap PLTU dan warga Rembang terkait pembangunan Semen Indonesia, adalah bukti konkret bahwa kitab-kitab penentu kebijakan itu tak selalu beriringan dengan kehendak masyarakat. Menjadi tantangan bersama di era keterbukaan informasi ini untuk menakar ulang Konsensus. Berbeda dengan zaman orde baru dimana akses informasi sulit dan negara dengan militer menggenggam erat laju kebudayaan Indonesia.

Melengkapi KSPPN dan MP3EI, Festival Kota Masa Depan berupaya menggali masukan-masukan warga terkait mimpi kota di masa depan. Seperti kata Jane Jacobs kota yang sehat yakni kota yang dibangun dengan consensus semua pihak, bukan pembangunan dari atas ke bawah yang dulu sering dipaksakan. Sebagai lembaga seni yang bergerak dalam isu-isu perkotaan kiranya penting bagi Hysteria untuk memberikan kontribusi gagasan pada kota setelah aktif sejak tahun 2004. Festival Kota Masa Depan mengajak publik merayakan mimpi kota sekurang-kurangnya 25 tahun yang akan datang. Rentang waktu ini terinspirasi di masa lalu perumusan masa depan negara ditentukan oleh Garis-garis Besar Halauan Negara (GBHN) yang disusun dalam kurun 25-30 tahun mendatang. Pasca reformasi, GBHN ini sudah tidak digunakan hingga munculnya UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Saat ini pengganti GBHN adalah dokumen Rencana Pembanganan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang ditetapkan dengan UU No. 17/2007. Dokumen ini kemudian diturunkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan dokumen rencana pembangunan tahunan yang disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Dokumen ini yang menjadi dasar penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Memang sudah ada mekanisme yang mengakomodir keinginan dan mimpi masyarakat melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) secara berjenjang, namun pada praktiknya Musrenbang ini dikeluhkan sebagai ajang basa-basi saja karena realisasainya minim. Di antara sekian banyak keluhan mengenai musrenbang, alasannya adalah gagalnya pendidikan politik masyarakat sehingga partisipasinya minim. Kegagalan pendidikan politik ini mengakibatkan proses pengambilan keputusan hanya terjadi di kalangan elit saja.

Festival singkat ini tentu saja tak muluk-muluk ingin mengedukasi masyarakat dalam tataran luas, alih-alih merubah secara radikal, festival ini hanyalah pemantik bahwa berkota adalah budaya bersama. Seseorang tidak peduli, karena ia tak mengenal kotanya dengan baik. Festival ini dengan berbagai cabang kegiatannya mengajak masyarakat untuk terpantik mengenali dan peduli kota sehingga masa depan kota tak hanya jadi perhatian birokrasi dan korporasi semata.

Berbagai jaringan multidisipliner diajak terlibat dalam proses ‘mengenali’ dan mengimajinasikan kota. Bukan hal yang besar di tengah ‘nasib’ negara yang disetir oleh KSPPN dan dokumen suci MP3EI, namun suara-suara orang kebanyakan ini diharapkan bisa menjadi pengingat, bahwa barangkali ada kehendak lain, ada suara-suara alternative yang mungkin bisa menawarkan solusi yang lebih baik.

Sabtu, 29 November 2014
Diskusi 1, Gedung Arsip Kota Semarang.
‘Citizens Urbanism’ 10.00-12.00.
Tentang bagaimana partisipasi masyarakat dalam pembangunan, saluran-saluranya, efektif tidaknya, perencanaan kota oleh Pemkot Semarang, dan penanggap dari akademisi.
Pemantik: Riandy Tarigan (Unika Soegijapranata, Semarang), Mila Karmila (Unissula Sultan Agung, Semarang), Bambang Haryono (Kepala Bappeda Kota Semarang), Mohammad Hasyim (tokoh warga di Tugurejo), Pratomo Ardian (Solo Creative City Network), Gustaff Hariman (Common Room Bandung).

Diskusi II
Gedung Arsip Kota Semarang, ‘Iman pada Kota’ 13.31-15.00.
Tentang inisiatif-inisiatif komunitas dalam merespons isu kota masing-masing dan strateginya
Pemantik: Ketjil Bergerak (Yogyakarta), Gosek Tontonan (Pati), Lasem Heritage (Rembang), Kampungnesia (Surakarta), Kota Milik Bersama (Semarang), Titus Aji.

Diskusi III
Gedung Arsip Kota Semarang, ‘Seni dan Kemungkinan yang Tercipta’.
Tentang praksis seni dalam menyikapi persoalan kota, 15.01-17.00.
Pemateri: Yustina Neni (Yayasan Biennale Yogyakarta), dan Venzha (House of Natural Fiber)

Minggu, 30 November 2014
Artist Talk I, Gedung Arsip Kota Semarang, 10.00-12.00.
Artist: Zone of Street Art, Jamaah al Hikmah, Hokage, Kata Warga, Annisa Rizkiana.
Penanggap: Sita Maghfira (curator).

Diskusi bersama Koalisi Seni Indonesia
Gedung Arsip Kota Semarang, 13.00-14.30.
Tentang lika liku dana kesenian dan undang-undang kebudayaan.

Artist Talk II
Gedung Arsip Kota Semarang, 14.31-16.00.
Artist: Bayu Tambeng, Tri Aryanto, Karamba Art Movement, Isrol Media Legal
Penanggap: Asep Topan (ruang rupa).

Line up: Pyongpyong, OK Karaoke, Gagak Rimang, Electricall Address, Bottle Smoker, Aimee, Transistor, LimaRibu.

Pameran: Arief ‘Hokage’ Hadinata, Hysteria, Tri Aryanto, Bayu Tambeng, Jamaah Al Hikmah, Karamba Art Movement, Annisa Rizkiana, Zone of Street Art, Isrol Media Legal.

Hysteria
Alamat: Jalan Stonen Nomor 29, Bendanngisor, Semarang.
Nomor Telepon 024 8316860/ 085727088235.
Website: www.grobakhysteria.or.id.
Share on Google Plus

About semarang rentcar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar