Ini Nasi Glewo, Kuliner Legendaris Semarang yang Nyaris Punah


Nasi Glewo, sajian khas Semarang ini bisa jadi asing bagi warga Semarang sendiri. Makanan yang populer tahun 70-80an itu kini nyaris punah dan sulit ditemui meskipun hanya resepnya.

Kuliner langka itu akhir pekan ini bisa ditemui di Festival Kuliner Nusantara "Lezaatnesia" yang digelar di Pasaraya Sri Ratu, Jalan Pemuda Semarang. Hanya ada satu penjual Nasi Glewo dari 60 tenant yang berjualan di festival itu. 

Sebenarnya apa Nasi Glewo? Jika dilihat saja, penampakannya seperti Nasi Ayam Semarang. Racikan nasi gurih diberi lauknopor yam dan tahu, sambal goreng labu siam dan areh. Bedanya lauk Nasi Glewo pada bukan opor ayam melainkan daging sapi dan koyor. Kuahnya seperti sayur terik namun dengan aroma kencur. Terik merupakan bumbu kuning untuk mengungkep tahu dan tempe dengan rasa agak manis.

Rika Narulita (29), pembuat Nasi Glewo menjelaskan selain bahan utama koyor dan daging sapi, kuah santan dan penyajian dilengkapi emping mlinjo menjadi rahasia nikmatnya Nasi Glewo.

"Ini bedanya dari Nasi Ayam selain dagingnya yaitu pada bumbu rempahnya, ada kencurnya," kata Rika, Jumat (8/9/2017).

Kuliner langka itu dijual Rika dengan harga hanya Rp 20 ribu sudah dengan satu botol air mineral. Para pembeli kebanyakan warga yang sudah berkeluarga dan bernostalgia karena Nasi Glewo sudah sulit ditemukan tahun 1990-an.

"Yang beli kebanyakan yang tua, hehe. Mereka nostalgia," tandasnya.

Rika sudah cukup akrab dengan Nasi Glewo meski nyaris punah karena sang ibu yaitu Usnah Usman (60) pernah berjualan Nasi Glewo namun tidak diteruskan. Ia pun bertanya-tanya kepada ibunya dan berusaha membangkitkan lagi Nasi Glewo.

"Mama pernah iseng cerita soal Nasi Glewo. Waktu itu belum terlalu tahu, terus saya ingin memunculkan kembali," pungkas Rika.

Ia pun mencatat resep yang pernah dibuat ibunya dan dilengkapi dengan browsing di internet. Ternyata di internet pun minim data soal Nasi Glewo. Beberapa kali uji coba, akhirnya Rika menemukan citarasa klasik Nasi Glewo dan menjualnya setahun terakhir.

"Makanan ini hampir punah, makanya saya ingin perkenalkan lagi. Biar tahu kalau di Semarang ada makanan khas ini," tandasnya.

Di luar Festival Kuliner, Rika menjual Nasi Glewo di rumahnya di Batan Miroto 4 RT 4 RW 2, Semarang. Namun ia baru menjual untuk rekan atau saudara, dan menerima pesanan lewat WhatsApp.


"Ya baru jual ke orang-orang dekat. Ada keinginan buka rumah makan Nasi Glewo," ujar anak ketiga pasangan Usnah Usman (60) dan Wiwin Wibowo (65) itu.

Sementara itu, penyelenggara Festival Kuliner Nusantara, Firdaus mengaku terkejut ada yang mendaftar tenant dengan suguhan Nasi Glewo. Ia yakin tenant itu menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung yang ingin bernostalgia.

"Pas pertama tahu saya coba ingat-ingat, ternyata saya pernah makan Nasi Glewo tahun 80-an sama bapak saya di Gris yang sekarang jadi mal Paragon," kata Firdaus.



[detik.com]
Share on Google Plus

About semarang rentcar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar