Tradisi Dugderan, Sambut Puasa di Semarang


Bulan Ramadhan adalah salah satu bulan yang paling ditunggu kehadirannya oleh umat Islam. Karena bulan ini penuh dengan keberkahan. Kemuliaan bulan Ramadhan ini pun telah digambarkan dalam Al Quran yaitu sebanding dengan seribu bulan. Kesukacitaan umat Islam dalam menyambut kedatanagn bulan suci ini pun biasanya dirayakan dalam berbagai bentuk tradisi.

Salah satu tradisi masyarakat dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan ini diselenggarakan di Semarang yang dikenal dengan sebutan tradisi Dugderan.  Seperti apa kemeriahan tradisi Dugderan ini pasti sangat menarik minat Anda bukan?

Untuk mengetahui lebih jauh tentang tradisi Dugderan ini, yuks cari tahu lebih lanjut di artikel ini ya. Siapa tahu, perayaan ini bisa menjadi alternative agenda wisata Anda. Tradisi Dugderan merupakan tradisi umat Islam Semarang dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang biasanya dilaksanakan sekitar satu atau dua minggu sebelum ibadah puasa dimulai.

Tradisi Dugderan ini sudah berlangsung lama dan sudah menjadi semacam pesta rakyat. Biasanya, pesta rakyat ini diisi dengan berbagai seni budaya seperti tari japin, arak-arakan atau karnaval hingga tabuh bedug yang dilakukan oleh  orang nomor satu di Semarang.

Namun, acara puncak proses ritual tradisi Dugderan tetaplah pengumuman penetapan awal puasa. Arak-arakan atau karnaval sebagai bagian dari prosesi tradisi Dugderan biasanya dilangsungkan sebelum acara tabuh bedug. Pemberangkatan peserta arak-arakan dari Balai Kota dan finish di masjid Kauman (masjid Agung), dekat pasar Johar. Karena minat masyarakat yang semakin meningkat, rute arak-arakan diperpanjang sejak dua tahun yang lalu.

Setelah dari masjid Agung, perjalanan arak-arakan dilanjutkan sampai ke masjid Agung Jawa Tengah yang terletak di Gayamsari.

Setelah dibukanya tradisi Dugderan  (1 atau 2 minggu sebelum puasa), acara puncak ritual baru dilangsungkan sehari sebelum masuknya bulan puasa, tepatnya setelah sholat Ashar dengan berkumpulnya para ulama untuk melakukan musyawarah dalam hal penentuan awal Ramadhan. Setelah itu, halaqah tentang pengumuman ketentuan dimulainya puasa pun digelar dengan “pemukulan bedug” sebagai tanda awal puasa.

Hasil halaqoh diserahkan ke Kanjeng Gubernur Jateng, Kanjeng Bupati Semarang (Walikota Semarang) dan selanjutnya Gubernur memukul bedug. Ritual tradisi Dugderan kemudian diakhiri dengan pembacaan doa.

Masyarakat Semarang terutama muslim sudah sangat akrab dengan tradisi Dugderan ini. Tradisi ini sendiri sudah ada sejak sekitar satu abad yang lalu. Meski sudah berumur panjang, tradisi ini teap dilestarikan dan menjadi salah satu event favorit masyarakat yang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya.

Menurut sejarah, tradisi Dugderan pertama kali dilaksanakan oleh Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat pada tahun 1881. Acara ini digagas oleh sang bupati untuk memberi semacam pertanda awal waktu puasa karena pada waktu itu umat Islam belum memiliki keseragaman untuk berpuasa. Bupati yang terkenal kreatif dan memiliki jiwa seni yang tinggi inipun memilih sebuah pesta dalam balutan tradisi untuk menjembatani perbedaan dalam menentukan awal puasa.

Sebagai tanda dimulainya Ramadhan digelarlah upacara membunyikan bedug (Dug..dug…dug) sebanyak 17 kali dan diikuti dengan suara dentuman meriam (Der…der…der) sebanyak 7 kali. Dari perpaduan bunyi dug dan der inilah asal muasal nama tradisi Dugderan diambil. Tradisi atau kesenian yang digagas oleh Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat itu pun berkembang dan terus lestari hingga saat ini.

Pada masa awal tradisi Dugderan digelar,  tak hanya suara bedug dan meriam saja yang menjadi inti pesta rakyat ini tapi juga terdapat maskot yang dikenal dengan sebutan “Warak Ngendog.” Maskot ini berupa sebuah mainan jenis binatang rekaan yang bertubuh kambing dan berkepala naga dengan kulit bersisik yang dibuat dari kertas warna-warni  serta kayu.

Maskot ini juga dilengkapi dengan beberapa telur rebus yang menunjukkan bahwa binatang ini sedang ‘ngendog’ atau dalam Bahasa Indonesia bertelur. Keberadaan Warak Ngendog pada masa itu melambangkan Semarang yang sedang krisis pangan dan telur merupakan makanan mewah.

Sebetulnya pesan apa sih yang disampaikan dengan penyelengaraan tradisi Dugderan di Semarang ini? Tak hanya sekedar pesta rakyat, tradisi Dugderan memiliki puncak acara yang sangat penting yaitu tabuh bedug dan halaqah yang menjadi akhir acara. Ritual puncak ini mengacu pada salah satu budaya Islam Semarang yang mengandung pesan dibaliknya. Pesan pertama dari tradisi Dugderan ini adalah pengumuman dimulainya bulan suci Ramadhan.

Pengumuman ini dilambangkan dengan penabuhan bedug yang menjadi ‘tetenger’ serta pengukuhan ketetapan jatuhnya 1 Ramadhan pada esok harinya. Dengan adanya acara puncak ini, perbedaan yang terjadi tentang penentuan awal puasa di Semarang pun diharapkan bisa diatasi dengan adanya tradisi Dugderan ini.

Tak hanya itu, tradisi Dugderan juga mengandung nilai edukatif bagi anak-anak untuk menyambut dan melaksanakan ibadah puasa dengan sukacita.

Adanya warak ngendhog pun mengajarkan anak-anak tentang kesucian, jiwa yang bersih dan ketaqwaan yang harus dimiliki seseorang dalam menjalankan ibadah puasa.




[jariadventure.co.id]
Share on Google Plus

About semarang rentcar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar